Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal, kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk. Dan dalam tempo 40 tahun, penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat.
“Saat ini Batam telah bertransformasi menjadi kota internasional yang modern dan sebagai tujuan pendatang dalam mencari kehidupan yang lebih baik dengan adanya kesempatan yang terbuka bagi seluruh kalangan. Orang berbondong-bondong dari seluruh Indonesia datang ke Batam mencari rizki,” ujar Dahlan saat mengisi Studium Generale di kampus Ibnu Sina, beberapa hari yang lalu.
Masyarakat kota Batam merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari beragam suku dan golongan, antara lain Melayu, Jawa, Batak, bugis, Minang, dan Tionghoa. Keberadaan masyarakat asli Batam yang merupakan suku melayu, sambung Dahlan, tidak dapat dipinggirkan seiring laju pembangunan tersebut. Dengan berpayungkan Budaya Melayu dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, Batam menjadi kondusif dalam menggerakan kegiatan ekonomi, sosial politik serta budaya dalam masyarakat.
Pemerintah juga terus berkomitmen menjaga kelestarian budaya sebagai upaya keseimbangan kearifan lokal yang telah ada sejak dulu di tengah kemajuan zaman. Pemerintah juga telah menetapkan kawasan kampung tua yang jumlahnya ada 33 kawasan di seluruh Batam sebagai wujud menjaga kearifan lokal.
Dalam konsep smart city, Dahlan berharap seluruh elemen masyarakat bisa turut serta dan aktif dalam mewujudkan Batam sebagai kota yang cerdas dan layak huni. Seperti yang dikatakan dalam kesempatan-kesempatan sebelumnya, Batam harus dibangun dengan memperhatikan tiga aspek, yakni smart economy, smart social dan smart environment.
“Namun dalam membangun berdasarkan ketiga hal tersebut, penting untuk terus menjaga kerukunan dan rasa saling menghargai dari seluruh masyarakat agar tidak ada gesekan dan perpecahan sehingga menghambat laju pembangunan,” pesannya.(red/mc)
Komentar